Bersama daun cemara aku meresapi keberadaanku di sini Menghirup udara, di tanah yg konon melimpah hasil sumber daya alamnya Mereka tersenyum Mereka menyapa Dan mereka
SelengkapnyaKata orang, hidupku tertataKata orang, aku hebatKata orang, pekerjaanku idamanKata orang, aku beruntung Wah iya prosesnyaWah iya kelihatannyaWah iya kenyatannyaWah iya bingkainya Lihat itu! Seorang
SelengkapnyaWangi khas teh melati seraiAroma pisang bertabur kayu manisObrolan seputar kerja dari gedung sunyiDan kecoa yang membuyarkan tawa gadis Tampak gagah dan banyak bicaraIa tahu
SelengkapnyaMereka menyebutmu “menakutkan”Tapi, aku menyangkalnyaSampai saat itu berani ku bisikkanTentang trauma apa selama hidupnya? Sebetulnya Tuhan telah memelukmu lewat tangan ituDia mencoba menghiburmu tak kenal
SelengkapnyaDi masa sekolah, kita dituntut berprestasi Menjadi yang terbaik dengan segudang ekspektasi Pun di usia dewasa, Setiap orang berlomba-lomba Yang lama-lama melelahkan juga memuakkan Semua
SelengkapnyaTerbangkanlah kelopak mawar kepadanya Seorang gadis yang melihat sebuah kampus dari televisi berwarna tetangganya Ia berpikir, apa yang dilakukan orang2 muda di sana? Apakah mereka juga
SelengkapnyaSeperti bukit itu sebagai pengingat Selama pelukan yang hangatTerasa begitu dekat dalam pagi yang pekat Terikat dalam bilik kayu yang bersekatMemendam dendam yang temaram Semuanya
SelengkapnyaBagaimana Jika? Jika ada penerimaan pasti ada penolakanJika ada perkenalan pasti ada perpisahanJika ada perdamaian pasti ada peperanganJika ada kelahiran pasti ada kematian Sudah sejatinya
SelengkapnyaPuan, saya dirayakan di ujung jurangApapun ia berikan, sejalan dengan ego dan amarahnyaTapi tidak selalu, meski berulangSering, namun ujungnya berakhir dengan bahagia Kadang saya merasa
SelengkapnyaBetapa menakutkannya bertemu denganmu hai manusiakuSosok dengan rasa yang tetap ada, namun tak lagi mau memilikikuSakitnya karena pada akhirnya kisah inimenjadi asing, untukmu dan untukkuSampai
Selengkapnya