Category: Sajak

Terik menyengat pukul tiga belasBunyi metromini dan kernet berbalasKu sigap meski tergagapMelompat turun berdegap Ku tunggu Yolanda, sang seniman jalananPada gang Jakarta yang penuh kerumunanYolanda

Selengkapnya

“…Kata mbak Pi, calon suamimu itu melambai, kayak perempuan, kalem gitu lho..” komentar tetangga Aku merasa geli Komentar tetangga yang tak jarang bernada iri Ironisnya

Selengkapnya

Aku emosi Karena aku selalu ditanyai  “Apakah sudah isi?” Mereka bertanya sambil menunjuk perut ini  Sebetulnya aku belum terlalu lelah menjawab pertanyaan mereka yang penuh

Selengkapnya

Langit ku biru terang.. mengiringi ku terbang menuju pelangi seperti tetesan embun dalam versi berwarna.. indah..sangatlah indah. kilaunya tautkan hatiku sahabatku bahagia dalam diamnya menyembunyikan

Selengkapnya

Ah..seperti apa kebebasan itu.. begitu bahagia menghirup udara tanpa beban tersenyum tanpa tekanan.. menari tanpa rintangan berdansa dan melompat sekuat tenaga   berlutut di tengah

Selengkapnya