Ber-isi

Aku emosi

Karena aku selalu ditanyai 

“Apakah sudah isi?” Mereka bertanya sambil menunjuk perut ini 

Sebetulnya aku belum terlalu lelah menjawab pertanyaan mereka yang penuh dengan rasa ingin tahu tinggi

Ku jawab saja sesuai isi dalam perut saat ini 

Misalnya

“Sudah kok, lalapan ayam sama es teh” atau “sudah dong, isi nasi goreng terasi buatan sendiri”

Lalu mereka tertawa geli dan mendoai supaya rahimku cepat ter isi, supaya dikaruniai anak perempuan dan laki laki, atau supaya orang tuaku segera menimang cucu 

Aku tidak tahu, apakah pertanyaan itu sesuatu yang umum atau agak tabu

Tabu karena itu sesuatu yang personal bagi beberapa orang, termasuk untukku.

Ahh.. seandainya mereka tahu, bahwa aku sengaja menunda “isi” dalam perutku. Mungkin saja, aku sudah di nasehati atau bahkan di rukyah karena sama saja menolak rejeki dari Yang Kuasa

Begitu kah?

Aku pikir tidak

Aku sadar, aku menundanya karena paham bahwa tanggung jawab kepada jabang bayi itu sangat tinggi. 

Kenapa?

Aku sering mendengar harapan beberapa orang tua seperti “semoga nanti kakaknya bisa menguliahkan adiknya” “semoga nanti aku bisa ikut ke anak2ku” “semoga anak2ku nurut kepada bapak ibunya” dan lainnya. 

Mungkin itu terdengar lumrah karena menjadi wacana yang sering terdengar di sekitar kita

Tapi aku tetap merasa mengapa doa itu justru terdengar seperti sebuah tumpuan atau bahkan beban

Aku jarang mendengar “semoga semakin mencintai diri sendiri” “semoga selalu bahagia dengan apapun pilihanmu” atau “semoga ibu bapak semakin bisa menghargai setiap keputusanmu”

Well, mungkin itu bukan hal yang mudah karena pasti orang tua merasa berhak atas tuntutan itu sebagai balas budi atas pengorbanan orang tua selama ini. Tapi bagiku bukan kah tidak ada yang namanya pengorbanan jika apa yang kita lakukan berdasarkan ketulusan.

Jadi begitulah singkatnya, kenapa ku biarkan perut dan isinya masih berkutat seputar menu masakan Indonesia

(Fibi)

Written by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *