Dakwaan terhadap Diri
Barangkali dakwaan paling kejam bukan datang dari orang lain. Ia lahir dari kepala kita sendiri.
“Kenapa hidupku begini-begini saja?”
“Kenapa pekerjaanku tidak berkembang?”
“Kenapa orang lain terlihat lebih berhasil?”
“Kenapa uang selalu habis padahal kerja terus?”
“Kenapa keluargaku tidak pernah benar-benar tenang?”
Pertanyaan-pertanyaan itu kadang muncul satu per satu. Pada hari yang buruk, semuanya datang bersamaan. Terasa sangat rumit dan membingungkan. Satu persoalan menarik persoalan lain sampai hidup terasa seperti benang kusut yang tidak jelas lagi mana pangkal dan ujungnya.
Tubuh yang berubah membuat kita merasa gagal menjaga diri. Pekerjaan yang stagnan membuat kita mempertanyakan kemampuan. Melihat orang lain melanjutkan pendidikan membuat kita merasa tertinggal. Belum memiliki anak membuat masa depan terasa penuh tanda tanya. Hubungan keluarga yang tidak baik-baik saja ikut menguras energi. Belum lagi uang: pendapatan datang, tagihan menunggu, kebutuhan bertambah, sementara tabungan seperti punya kemampuan menghilang sendiri.
Lalu kita mulai menyusun dakwaan, lantas kita menjadijaksa, hakim, sekaligus terdakwa bagi diri sendiri, setiaphari.
Kurang disiplin.
Kurang pintar.
Kurang bekerja keras.
Kurang pandai mengatur uang.
Kurang menjaga diri.
Kurang bersyukur.
Hidup yang Dijadikan Perlombaan
Masalahnya, banyak dakwaan itu tidak sepenuhnya lahirdari diri kita. Kita tumbuh dalam masyarakat yang gemar membuat standar tentang bagaimana hidup yang dianggap berhasil. Pada umur tertentu seharusnya sudah menikah. Setelah menikah seharusnya punya anak. Setelah bekerja seharusnya punya rumah. Pendidikan harus membuat karier naik. Karier harus menghasilkan pendapatan lebih besar. Tubuh harus sehat dan enak dipandang. Keluarga harus harmonis. Dan di tengah semuanya, kita masih diharapkan terlihat bahagia.
Kita sering menganggap ambisi, produktivitas, dan keberhasilan sebagai sesuatu yang sepenuhnya personal. Seolah-olah keinginan memiliki rumah, jabatan, gelar, tubuh tertentu, barang tertentu, atau kehidupan tertentu lahir begitu saja dari dalam diri. Padahal tuntutan sepertiitu juga dibentuk (dikonstruksikan).
Kita hidup dalam sistem sosial dan ekonomi yang terus-menerus mengajarkan bahwa manusia yang “baik” adalahmanusia yang produktif. Waktu harus menghasilkan sesuatu. Pendidikan harus menghasilkan pekerjaan. Pekerjaan harus menghasilkan uang. Uang harus menghasilkan kepemilikan. Bahkan istirahat sekarang perlu dibenarkan dengan alasan supaya besok kita bisakembali produktif.
Ironisnya, kita belajar mengukur hidup seperti laporankinerja. Pertanyaan tentang berapa penghasilanmu? Apa jabatanmu? Sudah punya rumah? Sudah punya anak? Pendidikanmu sampai mana? Pada usia sekian, sudah mencapai apa? Ketika jawabannya tidak sesuai harapan, kita jarang mempertanyakan ukuran tersebut. Kita justru mempertanyakan diri sendiri. Di situlah persoalannya.Sistem yang sangat menekankan kompetisi membutuhkan manusia yang terus bergerak, terus mengejar, terusmembeli, dan barangkali yang paling efektif terus merasakurang.
Orang yang berhasil dianggap bekerja keras. Orang yang tertinggal dianggap kurang berusaha. Padahal garis mulaidan kondisi setiap orang tidak pernah sama. Kelas sosialmenentukan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kondisi keluarga menentukan seberapa banyak beban yang harus ditanggung seseorang. Gender menentukan jenis pekerjaan yang dihargai dan yang dianggap kewajiban.
Ada perempuan yang kariernya tertunda karena bertahun-tahun melakukan kerja perawatan(mengasuh anak, merawat orang tua, mengurus rumah) yang penting bagi keberlangsungan masyarakat tetapi nyaris tidak pernah dihitung sebagai produktivitas ekonomi.
Laki-laki juga hidup dalam tuntutan sosialnya sendiri. Mereka diajarkan bahwa menjadi laki-laki berarti mampu menyediakan, memiliki penghasilan, kuat, tidak bolehmenangis, dan tidak boleh terlalu banyak mengeluh. Ketika pekerjaan hilang atau pendapatan menurun, yang terguncang kadang bukan hanya kondisi ekonomi, tetapijuga harga diri.
Begitu pula perkara keturunan. Tubuh dan keputusan reproduksi yang sangat personal sering diperlakukan sebagai urusan sosial. Pertanyaan “kapan punya anak?” terdengar sederhana bagi yang bertanya, tetapi bisa membawa persoalan ekonomi, kesehatan, hubungan,pilihan hidup, bahkan kesedihan yang tidak diketahui orang lain.
Maka sebelum mengatakan seseorang kurang berusaha, mungkin kita perlu bertanya: apakah benar inikegagalan? atau justru kita sedang hidup dalam struktur yang tidak memberinya banyak ruang untuk bernapas?
Berhenti Menjadi Hakim Setiap Hari
Lalu apa yang harus dilakukan? Barangkali bukanperubahan besar. Nasihat seperti love yourself, berpikir positif, atau “jangan membandingkan diri dengan orang lain” terdengar mudah ketika diucapkan. Dalam kehidupan sehari-hari, semuanya jauh lebih rumit. Tagihan tetap harus dibayar. Pekerjaan tetap bisa menyebalkan. Konflik keluarga tidak selesai hanya karena kita melakukan afirmasi di depan cermin.
Kita juga tidak bisa keluar begitu saja dari sistem sosial yang membentuk kehidupan kita. Tetapi kita bisa mulai mengenalinya. (Mungkin) langkah pertama adalahberhenti menambahkan dakwaan baru ketika satu persoalan belum selesai. Kalau hari ini pekerjaan sedang kacau, jangan sekaligus menyimpulkan bahwa seluruh hidup kita gagal. Kalau kondisi keuangan sedang buruk, lihat perlahan apa yang sebenarnya terjadi sebelum menyebut diri tidak becus. Mungkin ada kebiasaan yang memang perlu diperbaiki. Tetapi mungkin juga penghasilan memang tidak sebanding dengan kebutuhan yang harus ditanggung. Begitu pula dengan perihal lainnya.
Pelan-pelan tanyakan: mana yang sungguh-sungguhdibutuhkan, mana yang memang menjadi tanggung jawabku, dan mana yang selama ini dibawa hanyakarena masyarakat mengatakan aku seharusnya memilikinya?
Tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini. Ada persoalan yang membutuhkan rencana. Ada yang membutuhkan bantuan profesional. Ada yang membutuhkan uang. Ada yang membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan. Ada pula yang membutuhkan waktu panjang, karena tidak semua kehidupan bisa diperbaiki dalam satu atau dua langkah.Besok, sebagian persoalan mungkin masih ada.
Tidak apa-apa. Hidup memang tidak selalu sesuai jadwal yang dibuat masyarakat. Kadang yang perlu dilakukan hari ini hanyalah membatalkan satu dakwaan terhadap diri sendiri. Jangan sampai sistem yang membuat kita terus merasa kurang akhirnya pindah ke dalam kepala—lalu menggunakan suara kita sendiri untuk menjatuhkan vonis.
(Fitria Sari)
