Cerpen: Memeluk Ibu

“Semoga terus membahagiakan dan memberikan pengalaman yang luar biasa…”

Itu adalah caption dari video yang direkam ibu, untukku, dan kakakku. Aku melihat diriku yang sedang menganga menyaksikan pertunjukan air mancur berjudul “Aqua Sym hony”. P nya hilang karena kerlip lampunya mati. Huruf lainnya berwarna ungu, kuning, hijau, dan merah. Meski begitu, sepertinya buatku tetap indah karena air mancurnya menjulang setinggi orang dewasa. Saat itu usiaku, 18 bulan-mungkin. Jelas aku tidak mengerti apa itu membahagiakan dan pengalaman yang luar biasa. Aku hanya tahu, rekaman itu ku terima saat ulang tahun ke-25 dari tante Nina, teman ibuku. Ia diam-diam menyimpan video itu tanpa tujuan. Ternyata, dari video itu terlihat aku pernah dirayakan oleh ibu.

Lalu aku bertanya balik, apa ibu juga pernah dirayakan semasa hidupnya? Sebab, selama ini aku tidak peduli. Aku hanya fokus pada pendidikan dan karierku. Aku sudah cukup muak dengan kondisi kakakku yang mengidap kelainan jantung bawaan. Salah satu katup jantungnya tidak berfungsi. Alhasil, aku lah yang harus banyak membantunya sejak kecil. Tumbuh kembangnya tidak maksimal. Bayangkan saja, usia tujuh tahun tinggi badannya tidak genap 100 cm dan beratnya hanya 13 kg saja. Tapi, ibu selalu berpesan supaya aku menjaga dan menemani kakakku kemanapun. 

Tentu saja aku menolaknya secara halus. Aku masih ingat alasanku meninggalkan rumah hingga saat ini. Sejak masuk kuliah, aku sudah memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Berbekal uang tabunganku dari hasil bernyanyi di café sejak masa SMA, tekadku sudah bulat. Aku wajib pergi dari rumah ini, tidak rela rasanya waktuku harus habis merawat saudariku yang entah kenapa sejak usia dua bulan dia seperti itu. Tidak adil jika langkah kakiku terbebani tugas domestik semacamnya. 

Aku mandiri tanpa biaya sedikitpun dari ibu. Meski demikian, sebagai anak tetap menjalin komunikasi dengannya, sekadarnya. Supaya gugur kewajibanku untuk menyapanya, itu saja. Selama merantau, ranjang rumah sakit dan perawat sudah hapal kehadiranku. 

“Yang mana pasiennya?” tanya perawat IGD.

“Saya, sus” jawabku sambil meremas perut.

Adegan itu sudah berulang sekitar lima atau enam kali dalam setahun. Sehingga, pertemuan selanjutnya aku hanya perlu naik ke bed IGD tanpa berkata apapun.

Aku harus kuliah sambil bekerja untuk mencukupi kebutuhanku sendiri. Dengan tedeng aling-aling anak mandiri, aku selalu berusaha meyakinkan ibu bahwa aku sanggup hidup sendiri. Jika ku ingat, sebetulnya ibu bukan perempuan yang menyulitkan. Ia tidak pernah mengeluh dengan watak kerasku dan keterbatasan kakakku. Ia seorang ibu rumah tangga yang hidup untuk melayani suami dan keluarga besarnya. Ya, itu juga alasanku minggat dari rumah karena rumah seluas 100 m2 itu harus dihuni oleh 3 kepala keluarga. Sesak dan penuh! Coba ku tanya, siapa yang betah dengan kehidupan seperti itu?

Sampai hari itu, tante Nina mengajakku bertemu karena sedang di Jakarta. Tante Nina adalah sahabat ibu sejak mereka kuliah. Menurut tante Nina, ibu adalah seorang diva di kampusnya dulu. Ia anggota paduan suara, penari tradisional, mampu berbahasa asing Mandarin, dan aktif organisasi. Tahu apa yang paling membagongkan? IPKnya 3,94-nyaris sempurna! Ibu juga sosok yang cantik dan tegas. Ibu dan tante Nina pernah bermimpi untuk pergi ke Paris berdua. Entah mereka terinspirasi film apa sehingga mengukir janji seperti itu. 

Sampai akhirnya obrolan yang membuatku tahu penyebab kenapa mimpi itu belum terwujud hingga kini. Ibu, jawabannya! Ibu menghentikan karier dan seluruh mimpinya setelah melahirkanku. Menurutnya, melahirkanku juga sebagai salah satu cara supaya kakakku tidak sendirian nantinya. Maka, ia berusaha untuk membahagianku dan kakak dengan kehadirannya secara utuh. Ia menghentikan bisnis kerajinannya yang sudah di rintis sejak kuliah. Alasannya, supaya aku dan kakak bisa mengenang secara abadi kehadirannya. Terlebih, ibu harus menanggung biaya om dan nenek karena kakek sudah berpulang lebih dulu. 

Aku tidak menyangka dalam kesunyiannya, terlalu banyak perjuangan dan beban yang dipikulnya sendiri. 

“Apakah setiap ibu di dunia ini seperti itu?” tanyaku pada tante Nina.

“Entahlah, setiap ibu punya pengalaman dan cerita hidup yang berbeda. Tapi yang pasti, masyarakat kita selalu menuntut perempuan terutama ibu untuk jadi super hero”, jawabnya.

“Apa maksudnya, tante?”, tanyaku lagi.

“Ya dituntut melayani suami, merawat anak, nyuci, nyapu, ngepel, kerja di luar rumah bantu ekonomi keluarga juga. Masyarakat menyebutnya kodrat. Padahal, itu cuma bikin ibu punya beban kerja berlapis”, jelasnya.

“Iya juga”, jawabku sambil merenung

Selepas perbincangan dan menyaksikan video masa kecilku, tante Nina juga membagikan potret ibu dari masa ke masa. Ibu memang cantik dengan khas nya, hidungnya tidak mancung, wajahnya bulat dengan pipi yang sedikit menggembung saat senyum. Kulitnya bersih meski tidak putih, rambutnya bergelombang. Ia begitu anggun berpose dan menggunakan baju penari Jawa. Namun, bayangan itu rasanya tak pernah kulihat dari masa kecilku hingga saat ini. Ibu kurus, bahkan seperti perempuan kurang gizi. Ia jarang makan dengan mindfull. Pakaiannya ku lihat juga itu itu saja dari dulu. 

Perkataan tante Nina bahwa ibu bertahan untuk menjalani hidup dan mengabaikan karir atau kehidupannya demi kedua anaknya, semakin membuatku terpuruk. Rahangku mengeras, air mataku hampir menetes tapi ku tahan. 

Dihadapan foto itu, aku ingin berteriak lantang “Bu, bukan sekadar pertunjukan Aqua Sym hony yang membahagiakanku, tapi melihatmu eksis untuk kehidupanmu sendiri, itu juga bahagiaku.” 

“Bu, tidak ada kata egois untuk siapapun yang memilih hidup dalam kehidupannya” pekikku. 

Malam itu ku putuskan bergegas pulang, ku beli tiket penerbangan yang ada dengan harga dua kali lipat. Aku menyesal karena selama ini begitu abai dengan semua situasi itu. Aku merasa menjadi sosok yang paling menderita karena harus menanggung tanggung jawab yang aku tidak mengerti kenapa harus aku yang merawat kakakku.

Tapi semuanya usai. Setibanya di rumah, aku langsung memeluknya dan berkata, “sebelum Ibu membahagiakanku dengan pengalaman yang luar biasa, bahagiakan diri ya Bu, setidaknya makanlah dengan tenang malam ini,” ucapku sambil memberikan sate ayam favoritnya. 

(Fitria Sari)

Written by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *