Cerpen: Ibu Gendud

“Dunia tidak selalu baik pada yang diam. Tapi yang diam, kadang justru yang paling tahu cara bertahan.”- anonim

Ibu Gendud, tubuhnya bulat seperti bantal yang terlalu banyak kapas, bukan karena ia malas, tapi karena memang begitulah ia diciptakan: dekat dengan bumi, rendah hati terhadap yang dipijaknya. Tidak ada yang tahu persis dari mana ia berasal. Ia hanya ada, seperti embun yang tidak pernah mengumumkan kedatangannya.

Pada suatu malam, sebuah mobil menghantamnya di jalan kampung. Bunyi itu keras. Orang-orang di warung sebelah menoleh sebentar, lalu kembali ke gelas kopi mereka. Ibu Gendud terpental. Ia diam sejenak di pinggir jalan. Tubuhnya meringkuk bukan untuk menangis, bukan untuk meminta belas kasihan, hanya untuk mengumpulkan dirinya sendiri kembali. Kepalanya menunduk dan matanya setengah terpejam.

Tidak ada jeritan ke langit dan tidak ada pertanyaan: mengapa aku ya Tuhan? Ia hanya menunggu rasa sakitnya selesai agak lama, lalu berdiri pelan-pelan. Kakinya sedikit gemetar di langkah pertama. Di langkah kedua, lebih baik. Di langkah ketiga, ia sudah melanjutkan perjalanan. Dunianya masih berjalan, karena ia merasa tidak pantas untuk meminta dunia berhenti demi dirinya.

Pernah pula seseorang menendangnya, seorang laki-laki dengan sandal jepit dan pekik tawa yang menyebalkan. Mungkin ia sedang kesal pada hal lain. Mungkin Ibu Gendud hanya hadir di tempat yang salah, di waktu yang salah, sebagaimana yang sering terjadi pada mereka yang tidak memiliki suara untuk membela diri. Ia terseret beberapa langkah. Badannya yang bulat itu memantul pelan. Namun, ia tidak berontak atau mengucap sumpah serapah. Ibu Gendud hanya menatap, tidak ada dendam. Hanya semacam ketenangan yang dalam, yang mungkin bagi sebagian orang terlihat seperti kelemahan, padahal sebenarnya adalah jenis kekuatan yang paling sunyi.

Tak lama berselang, Ibu Gendud sudah ditemani sosok lain. Ia juga datang tanpa basa-basi, duduk di sebelah Ibu Gendud, berbagi keceriaan di siang terik. Mereka tidak banyak bicara, karena bagi Ibu Gendud merasakan kehadiran kawannya sudah cukup menghiburnya. Begitulah cara mereka saling peduli yaitu dengan hadir, berbagi, tanpa mengharapkan ucapan terima kasih.

Selalu ku ingat bahwa Ibu Gendud pernah menjadi ibu tiga anak. Tapi sayangnya, dunia ini tidak selalu adil pada yang kecil dan lemah. Satu per satu, mereka pergi karena sesuatu yang tidak terlihat. Sebuah wabah yang datang diam-diam, menyapu yang paling rentan terlebih dahulu. Ibu Gendud menunggu lama di sisi mereka masing-masing. Sampai tidak ada lagi yang perlu ditunggu.

Kesedihannya tidak ia tunjukkan dalam bentuk yang mudah dibaca manusia. Ia hanya lebih sering duduk di tempat yang tinggi menatap ke arah yang tidak jelas, seolah sedang menghitung sesuatu yang ada di balik langit. Namun pagi ini, Ibu Gendud sudah berlari. Ia berlari bukan menuju sesuatu yang penting.

Ia berlari karena tubuhnya masih bisa dan kaki-kakinya masih ingat bagaimana caranya melangkah ringan. Meski dunia telah berkali-kali berlaku kasar padanya, ia bersyukur karena bumi tetap menyediakan tanah untuk dipijak dan angin untuk dihirup. Ada daun jatuh yang ia kejar, ditambah genangan kecil yang ia hindari dengan lompatan kecil yang hampir menggelikan buatku.

Di gang itu, tidak ada yang memperhatikan. Ia adalah makhluk yang tidak pernah menuntut dunia untuk menjadi lebih baik sebelum ia memilih untuk bahagia. Baginya kehilangan telah mengajarinya bukan untuk menggenggam lebih erat, tapi untuk tetap bergerak, karena bergerak adalah satu-satunya cara ia tahu untuk mengatakan:

Aku masih di sini. Aku masih ada.

Namanya Ibu Gendud, dengan bulu berwarna coklat kayu manis yang memudar di ujung-ujung lehernya. Kombinasi di empat kakinya berwarna putih, bak menggunakan kaos kaki. Giginya tidak rata karena bekas tabrakan, tapi taringnya tetap tajam mengunyah ikan asin atau dry food kilo-an. Ekornya terlihat lucu, karena ada sedikit bekas patahan di ujungnya. Ibu Gendud hanya mengeong kecil tiap ada yang tidak pas dalam langkahnya. 

Ia tidak mengajukan keberatan atas hidupnya kepada siapa pun. Mungkin ia memiliki bahasa untuk itu, hanya saja aku yang terlalu biasa tak mampu memahaminya. Makhluk seperti Ibu Gendud telah lama belajar satu hal yang bahkan banyak manusia belum mampu kuasai. Tetap bertahan hidup dengan bermartabat, meski pernah merasakan kesakitan yang sangat. Tentu itu adalah cara bertahan yang paling lembut, sekaligus yang paling keras.

Aku hanya berdiri di sana, memandanginya berlari mengejar kupu-kupu. Sesekali ia mengunyah rumput untuk kesehatannya. Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memilih makhluk mana yang layak aku perhatikan. Mana yang bulunya bagus, sosok matanya cantik, yang tidak kutuan atau jamuran. Aku terlalu sibuk membedakan mana yang pantas diberi makan dan mana yang cukup diusir dari depan pintu. Seharusnya aku malu, karena Ibu Gendud tidak pernah memilih siapa yang ia temani. Ia hanya hadir, untuk siapapun yang membutuhkan kehadirannya. Ia mengajariku sesuatu tanpa pernah berusaha menggurui, apalagi pamrih.

Sejurus berlalu, aku sadar kepedulian tidak perlu menunggu makhluk itu bisa berbicara, bisa membalas, atau bisa berterima kasih. Cukup karena ia juga makhluk hidup ciptaan-Nya, yang merasakan lapar, dingin, dan sakit dengan cara yang mungkin tidak kita mengerti. Sejak hari itu, aku selalu menyisakan makanan, waktu, atau sekadar tidak mengusirnya pergi. Bukan karena aku kasihan, Ibu Gendud sudah membuktikan bahwa makhluk yang paling tidak menuntut pun, tetap berhak untuk dirayakan kehadirannya.

(Fitria Sari)

Written by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *